RSS

Who Am I?

31 Jul

                Aku duduk di pojokan kamar,  suara TV mendominasi pagi ini, berbicara mengenai siapakah yang lebih unggul antara Chealse dan Ac Milan, jari jemariku kaku ia menunggu perintah dari otakku. Aku tatap layar putih itu lekat-lekat menerawang jauh tak beraturan, berpikir Siapakah aku?. Ditanya mengenai siapakah dirimu ( red-siapakah aku ) rasanya waktu berjam-jam tak akan cukup untuk bisa menjawabnya bahkan waktu belasan tahun lamanya takan mampu untuk menjawab siapakah aku?. Otakku berputar, oksigen dalam darah mulai merasuk kedalamnya menggoyangkan serabut-serabut memory, berharap bisa menemukan jawaban itu, ya jawaban dari pertanyaan klasik itu, logika-logika di dasarkan pada pola pikir rasional otakku tetap tak mampu menjawab pertanyaan itu. Sesuatu dalam tubuhku mulai merasakan risau, karena ia tak mampu merasakan siapakah dia sebenarnya, Akh sudahlah takkan cukup waktu dan takkan mampu aku menjawab siapakah diriku. Kupikir.

            Lemari tua berwarna kuning pudar dengan cat yang sudah terlihat sangat tua, di pojokan kamar itu, di atasnya bertengger tumpukan kardus yang membuatnya terlihat semakin sesak. Lemari tua itu mengingatkanku terhadap diriku, ya lihat saja lemari tua itu, dari dulu dia setia menjaga rapi semua pakaian milik tuannya, tak ada kekosongan dalam hidupnya di dunia setelah ia diciptakan. Setidaknya setiap hari dia selalu berguna menjaga pakaian majikannya. Pikiranku tiba-tiba menerawang ke masa lalu. Masa kanak-kanak yang telah hilang dari hidupku. Ya hilang di rampas laki-laki brengsek itu. dia yang merampas nya dengan kebrutalannya. Masih teringat kisah itu, selama enam tahun di sekolah  tiap hari tiada henti dan tiada malu, ia laki-laki hitam kumal itu merampas dan selalu merampas beberapa keeping uang ratusan dari saku celana miliku, tidak hanya uang pikirku menerawang. Dia pun mengambil kebebasan masa kecilku, aku ingat dia memanggilku dan beberapa kawanku memberi intruksi bak jenderal. Mengintruksikan kami harus kesana dan kesini harus begitu dan begini. Dia manusia hina itu telah merampas kebahagian masa kecilku, tidak, tidak hanya masa kecilku tapi lima belas orang lainnya telah ia rampas dengan kejam.

            Suara teriakan komentator sepak bola dari Tv putih kecil dihadapanku, membuyarkan lamunan, di atasnya bertengger antenna merah kecil berusaha berdiri dengan tegap, padahal, tubuhnya tak tegap lagi, baut-baut perekatnya hilang entah kemana. Tv itu bukan miliku, tapi ia milik sahabat karibku, bukan dia bukan hanya sahabat karibku, diapun sodara baruku di perantauan. Tv yang di titipkannya mengingatkanku akan masa-masa kelam yang berkelanjutan dari sekolah dasar. Di SMP bersejarah itu, sekolah yang di pandang telah menghasilkan lulusan terbaik daerah, sekolah itu yang kami pandang terbaik, sekolah itu yang di pandang paling beradab, menyimpan sejuta kenangan buruk bagiku, ya kenangan buruk itu, kenangan saat aku menjadi kaum marjinal di bangunan bersejarh itu. Masih teringat jelas di benakku tiga tahun aku menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, tak barang sekalipun aku benar-benar merasakan bahagia. Bocah berpakaian rapih, tas gendong ia pikulkan dipundaknya, celana biru pendek yang ia kenakan, persis artis lawak kawakan jojon. Dia adalah aku, benar-benar dia adalah diriku. Hal yang paling ku benci kala itu, saat dimana guruku memerintahkan kami untuk membentuk sebuah kelompok, ya sebuah kelompok yang benar-benar aku benci, aku bukanlah siapa-siapa, otakku tak pintar, cara bersosialisasiku sangat buruk, aku hanya terduduk di bangku paling belakang, tak ada satu orangpun yang mau mengajakku menjadi bagian dari kelompoknya, kuberanikan diri untuk meminta dan menawarkan diri agar bisa masuk diantara kelompok-kelompok itu, namun hanya penolakan yang aku dapat. Akhirnya lagi lagi dan lagi aku berkumpul dan membentuk kelompok sisa yang terdiri dari orang-orang yang sama sepertiku, hina, memang sangat hina aku waktu itu. Ingin marah rasanya ingin kukeluarkan semua kegundahan yang sudah menumpuk dalam hati dan pikiranku, aku memang bodoh tapi tak sepantasnya mereka berlaku seperti itu, aku harus berubah, jalan satu-satunya memang aku harus berubah.

            Sekolah menengah farmasi Rise Cirebon menjadi saksi bisu masa-masa kebangkitanku, semester pertama waktu itu, aku mampu menembus peringkat dua dalam kelas, ya pencapaian yang luar biasa, pencapaian yang diperoleh dari berbagai macam cerita pahit masa laluku. Tiga tahun aku menempuh pendidikan tak sekalipun aku kesulitan untuk mencari kelompok, malah mereka yang memintaku menjadi bagian dari meraka. Cita-citaku ingin menajdi seorang dokter Spesialis bedah atau dokter spesialis kanker bahkan cita-cita sebagai seorang alchemist pernah singgah dalam hidupku. Namun semua cita-cita itu harus aku kubur dalam-dalam. Aku yang sekarang hanyalah seorang mahasiswa ekonomi di sebuah universitas islam swasta di Yogyakarta. Perjalanan aku hingga bisa masuk ke jurusan manajemen fakultas ekonomi universitas islam Indonesia tidak lah mudah, banyak kegagalan yang aku alami selama dua tahun lamanya, hingga akhirnya tuhan memilihkan jurusan dan universitas terbaik untukku.

            Lagi-lagi suara Tv mengalihkan perhatianku dari benda di hadapanku, jari jemariku berhenti menekan tombol-tombol hitam yang ada di atasnya, pikiranku tiba-tiba berhenti dan beralih, kulihat dilayar kaca 11 orang laki-laki berpakaian biru dan 11 lainnya berpakaian hitam merah, memperebutkan sebuah bola bundar yang menjadi nyawa dalam permainan olahraga itu. Olahraga, ya olahraga tak ada satupun permainan darinya yang benar-benar aku kuasai, hingga aku tersadar wajar rasanya jika aku mempunyai badan seperti ini. Entah kenapa aku kurang tertarik dengan olah raga dan alasan yang sering aku gunakan adalah karena aku tak mahir berolahraga dan karena badanku yang besar hingga aku kesulitan untuk menguasai permainan olahraga yang aku senangi. Karena badankulah aku tak memiliki rasa percaya diri untuk tampil dimuka umum.

            Aku fokuskan kembali pikiranku pada layar putih, yang aku letakkan di atas tumpukkan bantal, pikiranku yang sempat bercabang aku kumpulkan kembali. Kini aku bukanlah yang dulu, aku yang sekarang adalah aku yang punya kehidupan lebih baik, hidup yang lebih beradab begitu kata orang-orang barat. Aku yang sekarang mempunyai mimpi dan cita-cita yang baru, mimpiku, aku ingin menjadi agen perubahan, untuk negaraku Indonesia, tidak bukan hanya untuk negaraku tapi untuk dunia. Dikampus tua itu, aku adalah orang yang berorientasi dan berambisi pada nilai, entah apakah ini baik atau tidak, yang ada di dalam pikiranku aku harus menjadi yang terbaik, mengumpulkan nilai-nilai terbaik, untuk aku persembahkan pada kedua orangtua ku di kuningan sana. Inilah bentuk tanggung jawabku  sebagai mahasiswa setidaknya untuk kedua orangtuaku. Karena pikirku hanya nilai lah yang mampu membahagiakan mereka.

            Setahun berlalu begitu cepat, aku yang dulu sempat membenci dunia ekonomi, aku yang membenci pergerakan saham, aku yang benci dengan akuntansi, namun kini semua berbalik 180 derajat, kampus tua itu beserta lingkungannya, telah merubah semua kehidupanku kini aku begitu mencintai ekonomi, aku bangga menjadi mahasiswa ekonomi. Karena bagiku ekonomilah yang menentukan suatu negara bisa dikatakan aman atau tidak. Perpolitikan yang carut marut di suatu negara, tidak mengakibatkan perekonomian negara tersbut ikut hancur. Namun, jika perekonomian di suatu negara hancur maka saya jamin politik di negara tersebut akan ikut hancur. Keprihatinanku terhadap perekonomian dunia saat ini, hingga terbesit dipikiranku suatu saat aku ingin menjadi seorang ekonom international yang membawa banyak perubahan ekonomi dunia menuju jalan yang lebih baik, imipianku yang tinggi mendorong aku yang tak mengerti apa-apa ini untuk belajar dan terus belajar, bukan hanya di kelas, di luar kelas pun juga, kini sibodoh itu mulai menyadari dan menyukai betapa mengasikannya membaca buku, dari bukulah aku bisa diterima oleh lingkunganku, karena bukulah aku bisa terlihat, dan bukulah sumber kekuatanku, buku, buku dan buku kini aku begitu mencintainya.

            Cahaya pagi mulai masuk lewat celah-celah jendela kamarku, kulihat keluar jendela, matahari sudah tinggi, tanpa bosan dia bersinar mengelilingi dunia. Aku terdiam teringat akan siapa diriku, aku ingin menjadi seperti matahari, kehadirannya selalu membawa harapan, sinarnya selalu memberikan kehangatan dan ia tanpa letih mengelilingi dunia tidak hanya untuk menyinari dunia, pun juga untuk belajar banyak hal dari se isi alam semesta. Ya aku adalah orang yang berambisi, aku adalah orang yang terus ingin beljar, dan aku adalah matahari.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Juli 2012 in Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: