RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2010

Pahlawan Ilegal ( Tanpa sertifikat )

Kebingungan nina ternyata belum berakhir setelah ia mempunyai netbook, justru inilah puncak kebingungan nina, nina yang memang dasarnya tidak terlalu tahu tentang teknologi, tapi disela-sela kebingungan yang melanda nina, datanglah sang pahlawan tanpa sertifikat yang sekaligus membuat hati nina merasa melayang di udara.

Sesampainya di rumah setelah membeli netbook, nina langsung mencoba netbooknya, nina tidak sabar ingin segera memainkan netbook barunya, yang ada dipikiran nina saat itu yes aku punya netbook baru, yang bisa aku bawa kemana-mana keren kan gw, kata nina di dalam hatinya sambil tersenyum bahagia, namun setelah ia menyalakan netbooknya dan muncul jendela dekstop, nina mulai gemetar dan di saat itulah keringat nina mulai keluar dari sela pori-pori kulitnya, keringat yang pertama muncul bentuknya normal namun ketika nina mengklik tombol start, kemudian nina mengarahkan kursornya pada Microsoft office lalu memilih Ms.Word, namun apa yang terjadi setelah nina mengklik MS.Word halamnnya tidak langsung terbuka, tetapi yang muncul adalah kotak jendela yang meminta kode untuk keamanan, ketika muncul kotak keamanan, nina mulai resah keringat yang keluar dari pori-porinya pun mulai lebay tidak normal seperti sebelumnya, baju nina mulai basah oleh keringatnya, nina mulai kesal dan mulai menitikan air matanya, nina bingung kenapa netbooknya seperti itu, tidak normal seperti netbook milik orang lain.

Dalam hati, nina bertanya-tanya apakah tuhan memang menciptakan aku untuk menjadi seseorang yang selalu di kelilingi oleh semua hal yang lebay, mulai dari keluargaku, keringatku dan sekarang netbookku yang mulai lebay meminta kode keamanan yang membuatku bingung, nina memutuskan untuk bertanya pada ketu, nina bertanya kenapa ketika ia ingin membuka MS.Word dan Excel selalu muncul kotak kemanan,namun setelah di tunggu selama satu jam ketu tak kunjung membalas smsnya, nina mulai putus asa nina menangis didepan netbooknya meratapi dirinya, nina kesal kenapa ia tidak pandai tentang teknologi, kenapa ia bisa begitu polos dengan yang namanya teknologi, ketika nina sedang meratapi dirinya, tiba-tiba nina di kagetkan dengan bunyi sms, dibukanya sms itu ternyata dari ketu, namun nina tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari ketu, justru jawaban ketu membuatnya semakin takut, ketu menjawab “ mungkin itu karena kamu memakai windows 7, kalo punyaku yang windows Vista ga gituna, atau mungkin netbooknya barang KW hahahaha”, kekesalan nina kini berada dalam tingkat klimaks dimana jika ada yang mebuatnya jengkel, sudah pasti orang itu semalam bermimpi keruntuhan duren busuk karena harus mendapatkan dorprize dari nina.

Setelah membaca SMS balasan dari ketu tangisan nina semakin menjadi-jadi, tubuhnya gemetar berguncang cukup hebat, tanpa di sadari nina kencing di celana karena saking bingung dan kalutnya, karena nina tidak menyadari bahwa dirinya kencing di celana, ketika nina bangun dari duduknya dan sedikit berlari untuk memberi tahu kakaknya bahwa netbooknya eror, tiba-tiba nina terjatuh kepleset namun yang ada di pikiran nina saat itu bahwa ia jatuh karena ada yang jorokin dia, padahal di tempat itu tidak ada satu orngpun kecuali nina, nina berlari sambil berteriak-teriak memanggil kakaknya.

Setelah bertemu dengan kakanya, kakaknya bertanya “ ada apah sih na, kok teriak-teriak gitu, terus itu dengkul kamu kenapa kok  jalannya pincang gt? “ nina menjawab “ itu kak tadi jatoh kaya ada yg jorokin padahal gag ada sapa2 serem, mana itu netbook eror lagi, masa baru beli dah eror” kakaknya terkejut dia bepikir haduh kok bisa sih netbook baru sudah rusak,karena kakaknya jugha sama polosnya dengan nina kakanya memanggil om dan tantenya untuk memberitahukan bahwa netbooknya nina yang baru di beli sudah eror, om dan tantenyapun terkejut, lalu mereka semua beranjak untuk melihat netbooknya, namun setelah sampai di ruang tamu kakaknya menginjak ompolan nina tadi, kakaknya bertanya “ na ini air apa kok bau pesing? Nina menjawab “ gag tau kak tadi nina jatoh disitu kayana nina terpleset deh bukan karena ada yang jorokin, tapi itu air apa yah? Jangan-jangan ada hantu lagi di rumah ini?” mereka semua saling pandang karena kebingungan, kemudian tantenya melihat kalo celana yang di pakai nina basah , “ na terus itu kenapa celana kamu basah kuyup kaya gitu?” nina kemudian meraba dan melihat celananya kemudian nina tertawa terbahak-bahak, kakak, om dan tantenya kini mulai bingung melihat nina tiba-tiba tertawa, “ na kenapa kok kaya kemasukan setan gitu, tiba-tiba ketawa gag jelas” sahut kakaknya, lalu nina menjawab dengan malu-malu “ kayana itu bukan air karena setan deh kak, tapi itu air ompolannya nina” kemudian kakak, om dan tantenya nina tertawa berbarengan, “ nina nina kok bisa kamu ngompol di celana sampai gag kerasa kaya gituh, pake di bilang itu air setan segala lagi hahahaha” kata omnya sambil terus tertawa. Setelah di lihat netbooknya menurut om nya “netbooknya bawa saja ke kampus mungkin temen kamu ada yang bisa bantu, gag mungkinkan netbook baru eror, namun kalo masih temen kamu gag bisa, besok sepulang dari kampus kita balik lagi ke careffour buat di perbaiki atau ditukar” “ ya udah besok nina mau bawa ke kampus, nina jugha mau mandi dulu mau bersih-bersih”.kemudian nina pergi ke kamarnya tanpa merasa bersalah dan malu.

Keesokan harinya nina pergi ke kampus dengan membawa netbooknya, dengan harapan temannya agus bisa membantunya, namun setalah nina bertanya kepada agus tentang netbooknya yang selalu meminta kode keamanan, agus hanya menjawab aduh na maaf kalo masalah beginian saya gag ngerti, mendengar kata-kata itu tubuh nina membeku bagaikan disambar petir, tanpa di sadari nina mulai menitikan air mata, teman-temanya yang ada disitu mulai kebingungan kenapa nina tiba-tiba menangis, tangisan nina membuat dirinya menjadi pusat perhatian anak-anak kampus, hingga muncul ozy dan bertanya, hei kenapa menangis ada apah?, kemudian nina menjelaskan semua masalah tentang netbooknya kepada ozy, setelah dijelaskan ozy mengecek netbooknya nina, setelah di cek ozy, menurut ozy netbook nina seperti itu karena netbooknya belom terpasang anti virus, setelah tau seperti itu nina merasa sedikit lega, kemudian nina meminta tolong agar ozy memasang antivirusnya,ozy menjawab tenang saja na nanti saya install antivirusnya dan saya bisa ngajarin nina belajar netbook kalo nina mau, mendengar kata-kata itu nina bahagia sekali, persaan sedih yang meliputinya seketika sirna, dalam hatinya ia berkata kau memang pahlawan tanpa sertifikatku.

Namun setelah di pasang antivirus oleh ozy netbooknya sama sajah tidak menunjukan perubahan, tetap pada keadaan semula ini membuat nina semakin bingung, apa yang harus nina lakukan, namun saran ozy windowsnya harus diganti dengan windows XP kalo sulit menggunakan yang windows 7, kalo mau ganti nanti saya bantu, kata ozy sambil memamerkan senyuman manisnya.

Inilah awal cinta nina kepada ozy,jika mau tahu kisah cinta nina selanjutnya di tunggu di judul selanjutnya yaitu NETBOOK CINTA

Mohon komentarnya ya, agar bisa jadi bahan koreksi

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Oktober 2010 in Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,

Suara Emas Dari Ethiopia

Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.

“Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.

“Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu,” kata Bilal masih dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.

Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.

Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan nabi tercinta.

Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal.

Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan.

Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. “Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah seorang dari mereka.

Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat.

Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.”

Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.
Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk
adzan. “Adzanlah wahai Bilal,” perintah Abu Bakar.

Dan Bilal menjawab perintah itu, “Jika engkau dulu membebaskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku.”

“Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal,” kata Abu Bakar.

“Maka biarkan aku memilih pilihanku,” pinta Bilal.

“Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah,” lanjut Bilal.

“Kalau demikian, terserah apa maumu,” jawab Abu Bakar.

***

Di atas, adalah sepenggal kisah tentang Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Seperti yang kita tahu, Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia.

Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.

Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati, begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab.

Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai ganjarannya, Bilal di siksa dengan berbagai cara. Sampai datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan sejumlah Wang tebusan.

Bisa dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk orang yang pilih tanding dalam mempertahankan agamanya. Zurr bin Hubaisy, suatu ketika berkata, orang yang pertama kali menampak-kan keislamannya adalah Rasulullah. Kemudian setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.

Selain Allah tentunya, Rasulullah dilindungi oleh paman beliau. Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan, budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan walin-ya, itu lebih cukup dari segalanya.

Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan. Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan. Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, “Ahad, ahad,” puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.

Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang membukti-kan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai di sisi-Nya.

Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menjadikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah.

“Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu.”

Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. “Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu dan shalat sunnah dua rakaat.”

“Ya, dengan itu kamu mendahului aku,” kata Rasulullah membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah. Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan merasa lebih suci ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak belian dari Habasya, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.

Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.

Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.

“Ya Allah, selamatkanlah umat Islam yg sedang sengsara di Lubnan, Palestin, Afghanistan, Iraq, Chechnya serta diseluruh pelosok dunia akibat dari angkara mungkar dan kekejaman musuh-musuh Mu. Peliharakanlah mereka, lindungilah mereka, kasihanilah mereka dan berikanlah rahmatMu ke atas mereka.

Amin, ya Rabbal A’lamin.”

Sumber : syiar-islam (JUNHAIRI BIN ABD JALIL)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2010 in Bukan Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,

Netbook Kompor

Gadis remaja ini berumur 18tahun, panggil saja namanya nina, nina kini baru saja memasuki awal perkuliahan, nina kuliah di sebuah universitas swasta di kota bogor, nina semasa sma dulu terkenal sebagai anak yang pemberani, cerewet, ribet dan terlalu mendramatisir keadaan atau istilah kerennya bisa disebut LEBAY tingkat dewa hehehehe. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Oktober 2010 in Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,

Pelajar Berprestasi dari Indonesia

Pelajar Indonesia kembali mengukir prestasi membanggakan di luar negeri. Kali ini, Dewi Lestari Amaliah, Safira Dwi Tyas Putri, dan Muhammad Wildan Yahya mempersembahkan 1 emas, 1 perak, dan 1 perunggu pada Asian Young Inventions of Energy Exhibition (AYEE) 2010 yang diadakan di Kampus Southern Taiwan University (STUT) Tainan, Taiwan pada 10-11 Juli 2010. AYEE 2010 yang untuk pertama kalinya diadakan di Asia ini diikuti oleh sejumlah pelajar dari Indonesia, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan dan Taiwan. Dewi, Safira & Wildan Bersama Medalinya Tim Indonesia di bawah binaan LIPI ini terdiri dari tiga inventor muda yang cerdas dan ulet. Tidak tanggung-tanggung rombongan langsung didampingi oleh Kepala LIPI Prof. Lukman Hakim dan Kepala Biro Kerja Sama dan Permasyarakatan Ilmu Pengetahuan Teknologi Dr. Dedi Setia Permana. Safira Dwi Tyas Putri, yang biasa di sapa Putri, siswi SMPN 1 Aikmel, Lombok Timur berhasil memperoleh medali emas untuk karyanya tentang battery charger, semacam generator listrik sederhana yg dipasang di sepatu dalam karya tulis berjudul “Sepatu Sumber Energi Listrik”. Dengan teknologi ini, pengguna bisa meng-charge baterai handphone sambil berjalan menggunakan sepatu tersebut. Muhammad Wildan Yahya, siswa SMAN 2 Pare, Kediri, Jawa Timur yang membawakan inovasi mengenai produksi 4 buah produk (biodiesel, bioethanol, biogas dan pupuk organik) dari kelapa melalui pengolahan bertingkat secara terintegrasi, memperoleh medali perak untuk kategori pelajar SMA. Sementara, Dewi Lestari Amaliah, siswi SMA Negeri 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan memperoleh medali perunggu untuk karyanya tentang produksi biofuel dan briket dari kelapa. Sebuah prestasi yang membanggakan dan semoga terus berlanjut di masa-masa mendatang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Oktober 2010 in Bukan Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,

Percakapan Menarik tentang Hijab

“Saya sangat lelah.”“Lelah kenapa?”

 

“Lelah karena orang-orang tersebut selalu menghakimi saya.”“Siapa yang menghakimi kamu?”

 

“Perempuan itu, setiap saya duduk dengannya, dia selalu menyuruhku untuk memakai Hijab.”“Ohh.. Hijab dan Musik. Itu selalu menjadi tema utama.”

 

“Yah..! Saya mendengarkan musik tanpa memakai Hijab. Haha!”“Mungkin dia hanya sekedar memberimu saran.”

 

“Saya tidak butuh nasehatnya. Saya tahu agama saya. Bisa gak sih dia gak ikut campur urusan orang lain?!”“Mungkin kamu salah paham. Dia hanya mencoba berbuat baik kepadamu.”

 

“Tidak mencampuri urusan saya, itu baru namanya berbuat baik..”“Sudah menjadi kewajiban dia untuk menasehatimu agar melakukan hal yang baik.”

 

“Percaya dengan saya! Gak perlu ada anjuran seperti itu, lagipula apa yang kamu maksud dengan ‘baik’?”“Hmm… memakai Hijab, itukan satu hal yang baik untuk dilakukan.”

 

“Siapa yang bilang?”“Ada di Al-Qur’an, bukan begitu?”

 

“Yaah.. Dia juga telah mengutipnya.”“Dia mengutip surat Nur dan ayat lain kan?”

 

“Iya sih. Tapi itukan bukan dosa besar. Menolong orang dan sholat lebih penting.”“Benar. Tapi hal-hal besar dimulai dari hal-hal yang kecil.”

 

“Benar juga sih. Tapi apa yang kamu pakai itu tidak penting. Yang penting itu memiliki hati yang baik.”“Apa yang kamu pakai tidak penting?”

 

“Yup..”“Kalau begitu buat apa kamu menghabiskan waktu satu jam dipagi hari untuk berdandan?”

 

“Apa maksudmu?”“Kamu menghabisakan uang untuk kosmetik, dan menghabiskan waktu untuk menata rambutmu dan juga diet rendah karbohidrat.”

 

“Jadi?”“Jadi yang saya maksud: ‘penampilan itu penting’!”

 

“Bukan.. Yang saya maksud memakai Hijab itu bukan hal penting dalam masalah agama.”“Kalau gak penting kenapa ada di Al-Qur’an?”

 

“Kamu tahulah. Saya tidak bisa mengikuti semua hal yang ada di Al Qur’an.”“Maksud kamu Allah memerintahkan kamu untuk melakukan sesuatu lalu kamu tidak mematuhinya dan itu gak masalah?”

 

“Yup.. Allah kan Maha Pengampun.”“Allah itu mengampuni orang-orang bertobat dan tidak mengulang kesalahannya.”

 

“Kata siapa itu?”“Kata dari yang memerintahkanmu untuk menutup aurat.”

 

“Tapi saya gak suka Hijab. Itu membatasi kebebasan saya.”“Tapi lotion, lipstick, maskara dan kosmetik lainnya tidak menghalangi kebebasan kamu? Kalau begitu apa sebenarnya definisi kebebasan menurutmu?”

 

“Kebebasan itu adalah melakukan apapun yang kamu inginkan.”“Tidak. Kebebasan itu adalah dalam melakukan hal yang benar, bukan bebas melakukan segala hal yang diinginkan.”

 

“Gini loh. Saya banyak melihat orang yang tidak memakai Hijab dan mereka orang baik. Dan juga banyak orang yang memakai Hijab tapi mereka berkelakuan buruk.”“Memangnya kenapa? Banyak orang yang baik denganmu tapi dia pecandu alkohol. Memangnya kamu harus menjadi pecandu juga? Kamu membuat alasan yang bodoh.”

 

“Saya tidak mau jadi ekstrimis atau fanatik. Saya baik-baik saja dengan pilihan tidak menggunakan Hijab.”“Kalau begitu kamu fanatik dengan sekulerisme. Seorang ektrimis yang tidak mematuhi Allah.”

 

“Kamu gak paham. Kalau saya memakai Hijab. Siapa yang mau menikah dengan saya?”“Jadi orang yang pakai Hijab gak bakalan nikah gitu?”

 

“Baik. Bagaimana kalau saya menikah dan suami saya tidak suka? Lalu ingin supaya saya melepaskannya?”“Bagaimana kalau suamimu menginginkan kamu untuk melakukan perampokan bank?”

 

“Itu gak nyambung. Perampokan bank itu kejahatan.”“Memangnya tidak mematuhi Penciptamu bukan kejahatan?”

 

“Nanti siapa yang akan menerima saya kerja?”“Perusahaan yang menghormati orang apa adanya.”

 

“Gak mungkin, apalagi setelah 9-11.”“Tetap saja. Sekalipun setelah peristiwa 9-11. Kamu kenal Hanan?, yang baru saja diterima di fakultas kedokteran. Yang lain juga ada. Hmm… siapa itu namanya? Gadis yang selalu pakai Hijab warna putih?”

 

“Yasmin?”“Yah.. Yasmin. Dia baru saja menyelesaikan gelar MBA dan sekarang akan diterima di General Electric.”

 

“Lagian kenapa sih kamu menganggap saya kurang dalam beragama Cuma karena selembar kain?”“Kenapa kamu menganggap wanita itu kurang Cuma karena warna lipstick dan sepatu hak tinggi?”

 

“Kamu belum menjawab pertanyaan saya.”“Sebenarnya sudah. Hijab itu bukan Cuma selembar kain. Ini tentang kepatuhan terhadap Allah di lingkungan yang sulit. Ini keberanian. Ini bukti keimanan dan identitas perempuan. Beda dengan lengan pendek dan celana ketat kamu, untuk apa?”

 

“Itu namanya Fashion. Memangnya kamu hidup di goa? Lagipula Hijab itu ditemukan oleh pria yang ingin mengontrol wanita.”“Yakin? Saya tidak tahu kalau pria bisa mengontrol wanita dengan Hijab?”

 

“Yah.. Begitulah.”“Bagaimana dengan perempuan yang melawan suaminya demi untuk memakai Hijab? Dan perempuan di Perancis yang dipaksa untuk melepas Hijab mereka oleh pria? Bagaimana pendapat kamu tentang hal itu?”

 

“Hmmm.. itu beda.”“Apa bedanya? Perempuan yang memintamu untuk memakai Hijab, dia juga perempuan kan?”

 

“Benar, tapi…”“Tapi fashion, gitu? Fashion yang didesain dan dipromosikan oleh kebanyakan perusahaan milik pria dapat membuat kamu bebas? Laki-laki tak terkontrol lagi untuk mengekspos perempuan dan menggunakan mereka sebagai komoditas. Yang benar saja!!”

 

“Tunggu! Biar saya selesaikan dulu. Yang saya katakan adalah…”“Mau bilang apalagi..? Kamu pikir pria dapat mengkontrol perempuan dengan Hijab. Gitu?”

 

“Yah..”“Bagaimana detailnya?”

 

“Dengan menyuruh perempuan apa yang harus mereka pakai. Dungu!”“Bukannya TV, Majalah dan Film juga menyuruh kamu tentang apa yang harus kamu pakai dan bagaimana agar tampil menarik?”

 

“Tentu saja.. Itu namanya Fashion.”“Bukannya itu kontrol? Memaksamu untuk memakai apa yang mereka mau untuk kamu pakai.”

 

(diam)“Bukan Cuma mengontrol kamu, tapi juga mengontrol pasar.”

 

“Apa maksud kamu?”“Yang aku maksud adalah kamu diminta untuk kelihatan kurus dan anorexic seperti perempuan yang menjadi cover di majalah-majalah. Oleh pria yang mendesain semua majalah tersebut dan menjual semua produk tersebut.”

 

“Saya gak paham. Apa hubungannya antara hijab dan produk-produk tersebut?”“Ini semua berhubungan. Memangnya kamu tidak tahu? Hijab adalah ancaman bagi konsumerisme. Wanita yang membelanjakan bermilyar dollar agar terlihat kurus dan hidup dengan standar fashion yang didesain oleh pria. Disinilah peran Islam yang mencampakkan semua omong kosong tersebut dan memfokuskan pada jiwa bukan penampilan serta tidak khawatir dengan tanggapan pria tentang penampilanmu.”

 

“Jadi saya gak perlu beli Hijab? Bukannya Hijab juga produk.”“Yah. Produk yang membuat kamu bebas dari konsumsi yang kebanyakan dinikmati pria.”

 

“Berhenti mengkuliahi saya. SAYA TIDAK AKAN MENGGUNAKAN HIJAB! Itu hal yang aneh, kadaluarsa, dan sangat tidak cocok dengan hidup bermasyarakat….. ditambah lagi saya baru 20 tahun. Saya masih terlalu muda untuk memakai Hijab.”“Baik. Katakan itu kepada Allah ketika kamu berjumpa dengan-Nya di hari pembalasan!

 

“baik!”“baik!”

 

(diam)

 

“Saya tidak mau lagi mendengar tentang hijab niqab schmijab Punjab.”

 

(diam)

 

Dia berkaca memandang dirinya dicermin, lelah berargumen dengan dirinya sendiri selama ini. Cukup sukses. Dia berhasil membungkam pikiran-pikiran dikepalanya, dengan pendapatnya sendiri. Dia berjaya dengan kemenangan dalam perdebatan tersebut. Dan keputusan akhir yang modern dan diterima oleh masyarakat padahal ditolak oleh iman adalah….?

 

Yah…Keputusan itu adalah mengeritingkan rambut atau memblow rambut bukan memakai Hijab..

 

 

==========================================================

 

Ini versi translate dari notes hasil copypaste saya sebelumnya..Yang kemudian saya coba translate berdua dengan teman saya..InsyaAllah kita bisa mengambil pelajaran dari percakapan tersebut..Amin yaa Rabbal ‘Alamin.. ☺

 

http://www.facebook.com/note.php?note_id=427422199466&id=1595814447&ref=mf

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Oktober 2010 in Bukan Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,

Muallaf Yang Di Buang

Berikut adalah sebuah kisah nyata yang dikirim dari milist teman.
Jujur ketika ngebaca gw sampai habis terkesima dan meneteskan air mata.
Ini sungguh kisah sejati fren.. belum tentu kita bisa menjalani cobaan seberat
ini.

Coba baca dgn seksama
step by step…
Insya AllAh bakal terkesan…& mudah2an jd hidayah buat
qta2 yg lemah iman. Amien
Dan mohon maaf buat tmn2 yg tidak berkenan, qta ambil
sisi positifnya aja ok…
Meskipun panjang…bgt ceritanya,
tapi harus dibaca secara tuntas agar lebih meresapi.
Jujur gw Takjub… Subhanallah…
======================================================

DIBALIK KERUDUNG

(Perjuangan mempertahankan keyakinan)

Assalamualaikum Wr Wb.

Sebelum aku memulai cerita aku ini, izinkanlah aku untuk memohon
maaf apabila ada pihak2 yang tidak berkenan dengan cerita aku ini,
terutama keluargaku. Untuk itu nama2 orang dan tempat tidak akan aku
sebutkan. Aku ucapkan terimakasih untuk Retno (bukan nama
sebenarnya) dari Univ. T. di kotaku yg mau menuliskan kisah sejati
aku ini. Semoga kisah sejati aku ini menjadi inspirasi buat orang yg
membacanya atau mengalami hal yg sama.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan Hidayah pada kita
semua.

Aku, panggil saja “Mawar”, beurusia 30an thn dilahirkan di sebuah
pulau di sebrang pulau jawa, di kota P. Aku lahir sebagai anak
terakhir dari 4 besaudara. Kakakku yg pertama dan kedua, laki2,
sedangkan yg ketiga perempuan. Kami berasal dari keluarga keturunan
dan kami merupakan generasi ke 4 yg sudah menetap di negri ini.
Kakek buyut kami merupakan pendatang dari negri jauh dr sebrang di
awal abad 20. Keluarga kami memulai bisnis benar2 dari bawah,
menurut cerita orang tua kami, dulu kakek buyut kami hanya berjualan
dengan pikulan bahan2 kebutuhan pokok seperti gula, garam, beras dll
keluar masuk kampong. Usahanya baru berkembang dengan pesat setelah
pada tahun2 awal setelah kemerdekaan, pemerintah pada waktu itu
mulai menggalakan usaha yg dilakukan oleh bangsa sendiri/pribumi.
Waktu itu dikenal istilah AliBaba. Ali untuk pangggilan pribumi,
sedangkan Baba untuk warga keturunan seperti kami. Waktu itu
pengusaha pribumi asli diberikan kemudahan perizinan usaha, bahkan
mengimport dari negara2 lain, tapi umumnya mereka tidak punya banyak
modal. Waktu itu banyak warga keturunan yg mempunyai banyak modal
kemudian membeli ijin usaha yg diperoleh olah para bribumi tsb,
sehingga mereka secara mudah melakukan export import dengan negri2
tetangga (singapura, Malaysia, hongkong, dll) yg pada waktu itu
memang juga dikuasai olah warga dari etnis kami.

Singkat cerita, bisnis keluarga kami benar2 menjadi semakin besar
dan merambah ke segala bidang, mulai dari pertambangan, tambang
emas, property, perkebunan, dll. Boleh dibilang kekayaan keluarga
kami sudah diatas rata2 dari orang kaya di negri ini, above than
ordinary rich.

Harta kekayan kami yg amat melimpah itu sampai orang tua kami
kadangkala risau seandainya tiba2 kami sekeluarga (tiba2) meninggal
sehingga tak ada yg mengurus harta yg sedemikian banyaknya itu.
Untuk itu kami sekeluarga tak pernah melakukan perjalanan dengan
pesawat secara bersama2. Andai kami sekelurga akan melakukan liburan
pada saat dan tempat yg sama, maka biasanya kami dibagi menjadi 2
atau 3 penerbangan, Papa dan mama satu pesawat, dan kami sisanya
juga dibagi 2 penerbangan yg lain. Sehingga apabila terjadi sesuatu
musibah, maka akan tetap ada bagian keluarga kami yg masih selamat,
dan tetap bisa mengurus bisnis dan kekayaan kami. Aku sengaja cerita
panjang lebar latar belakang keluarga kami, sebab ini akan
berhubungan sekali secara emosi dengan kisah aku selanjutnya.

Papa kami lahir dan dibesarkan di pulau ini, selepas sekolah
menengah atas beliau melanjutkan sekolah bisnis di negri H, sehingga
begitu kembali ke negri ini, beliau manjadi businessman yg amat
handal, dan mempunyai banyak teman2 bisnis di berbagai negara. Papa
sebenarnya orang yg rendah hati, pendiam, bicaranya terukur dan
seperlunya, jarang marah pada anak2nya. Sedangkan mama, sebenarnya
berasal dari pulau lain, dia dulu pernah bekerja pada perusahaan
kakek kami (orang tua dari papa), sebelum akhirnya bertemu papa dan
menikah. Mama orangnya keras, pintar, lincah, banyak pergaulan,
sehingga kadang kami berpikir, papa seperti takluk pada mama. Banyak
kebijakan perusahaan yg berasal dari ide mama, dan memang selalu
sukses. Papa dan mama, memang pasangan yg serasi, saling mengisi
kekurangan. Masa kecil aku lalui dengan penuh kebahagian, dan sejak
SD sampai SMA aku disekolahkan disebuah sekolah swasta terkemuka di
kota kami, yg siswanya banyak berasal dari anak2 pejabat, bupati,
gubernur, dll. Aku berbaur dengan siapapun tanpa memandang golongan,
agama dan ras. Kadang aku diundang untuk mampir bermain kerumah
mereka (anak bupati, gubernur) sepulang sekolah, sehingga aku
mengenal labih dekat dengan keluarga mereka. Ini pula yg kelak
bermanfaat buat perusahaan keluarga aku.

Di sekolah kami, ada pelajaran agama untuk tiap2 pemeluknya. Pada
saat itu tiap ada jadwal pelajaran agama tertentu, maka bagi pemeluk
agama yg lain diperbolehkan keluar kelas, tapi boleh juga tetap
tinggal dikelas apabila memang menghendaki. Jadi misalnya hari ini
giliran pelajaran agama Islam, maka murid2 non muslim diperbolehkan
meninggalkan kelas, begitupula sebaliknya apabila ada pelajaran
agama lain. Tapi aku sendiri sering tetap tinggal dikelas
mendengarkan apa yg diajarkan ibu guru agama Islam di kelas kami.

Saudara2 ku semua….

Entah kenapa aku yg sejak lahir dididik secara non muslim, bahkan
tiap minggu aku beribadah di tempat ibadah kami, merasa tertarik
dengan ajaran agama Islam. Aku sendiri tak tahu datangnya dari mana.
Semacam ada panggilan dari hati aku yg paling dalam, tapi saat itu
aku pikir mungkin itu hanya rasa keingintahuan semata, bukan
mendalami secara jauh dan mendalam. Tiap mendengar azan, entah
kenapa hati aku selalu bergetar. Dirumah kami yg besar, kadang
hanya aku seorang diri, orang tua kami selalu sibuk di Jakarta
sehingga hanya beberapa hari dirumah dalam sebulan, kakak2 aku ada
yg sudah kuliah di luar negri, sehingga rumah mampunyai 6 kamar yg
besar2, yg seharusnya cukup untuk menampung 20 orang, hanya dihuni
oleh aku sendiri. Pembantu, sopir, satpam, tinggal di pavilion kusus
untuk mereka yg terletak terpisah dengan rumah induk. Dalam
kesunyian itu hati aku merasa sejuk tiap mendengar ayat suci Al
Quran yg kadang tak sengaja aku dengarkan di TV.

Kembali ke pelajaran agama di kelas. Entah mengapa aku makin
tertarik untuk mendalami ajaran agama Islam tiap ada pelajaran agama
dikelas. Melihat ibu guru yg mengenakan kerudung, dengan wajah yg
bersih, bersinar, hati aku terasa sejuk. Dengan melihat wajah ibu
guru itu saja aku sudah merasa damai. Tanpa aku sadari kadang aku
mencatat apa yg ibu guru iru ajarkan, bahkan aku mulai hapal diluar
kepala ayat2 yg pendek2. Itu semua benar2 terjadi begitu saja, tanpa
ada aku sadari dan tanpa bisa dicegah oleh diri aku sendiri. Pernah
ibu guru tsb menghampiri aku yg tak sengaja, secara reflex mencatat
pelajaran tetang haji yg dia tulis di papan tulis. Beliau tahu aku
non muslim, dan menghampiri tempat duduk ku, jantung ku derdebar
keras membayangkan kemungkinan aku diusir dari kelas.

Tetapi…..ternyata beliau dengan senyumnya ramah melihat catatan yg
aku tulis, sambil berkata, “Insya Allah kelak suatu saat Mawar
bersama dengan ibu melaksanakan ibadah Haji ya..”

Sejak saat itu hubunganku dengan Ibu guru (sebut saja ibu guru
Aisyah) makin akrab, aku hampir tidak sabar menunggu datangnya hari
pelajaran ibu Aisyah. Hubunganku dengan beliau bagai anak dan ibu.
Tetapi saat itu aku juga tetap mengikuti pelajaran agama yg saat itu
masih aku anut, walau lebih banyak melamun, bahkan tidak mencatat
sama sekali apa yg diajarkan.

Sebagai gadis remaja, tinggiku sekitar 160cm, tentu sedang mekar2nya
dan giat2nya mancari pacar. Teman2ku banyak yg mengatakan kalau
tubuhku indah, proporsional, berwajah oriental, bakalan banyak
menarik perhatian laki2. Plus dengan latar belakang keluarga ku yg
amat berkecukupan, makin banyak laki2 yg tergila2 padaku. Entah
kenapa saat itu aku tidak tertarik dengan laki2 yg berasal dari
etnis ku. Tiap hari jumat melihat siswa2 pria melakukan ibadah
shalat jumat, hatiku langsung bergetar, membayangkan andai salah
seorang dari mereka adalah pacarku, dengan wajah bersih bersinar dan
masih basah tetesan air wudhu, berjalan ke masjid di seberang
sekolah, ah…alangkan indahnya membayangkan wajah2 tersebut. Tapi
saat itu aku tahu diri, aku yg berasal dari etnis keturunan, apakah
ada laki2 pribumi yg mau menjadikan aku pacarnya. Aku tahu masih
banyak dari mereka yg membedakan ras, dan berpacaran dengan ras kami
masih dianggap memalukan, bahkan bisa jadi ejekan dan gunjingan
dilingkungan keluarganya. Aku pernah berpacaran dengan anak bupati
dikota ku, tapi kemudian dia memutuskan hubungan kami, dikarenakan
ayahnya akan mencalokan diri menjadi Gubernur,dan dia tidak mau ada
anggota keluarganya yg bisa menghambat pencalonan tsb. Misalnya
anaknya dengan berpacaran dengan ras lain (??). Walau alasan itu
amat sangat mengada2 tapi aku terima dengan lapang dada. Memang aku
sudah menyadari akan ada penolakan, karena aku berasal dari etnis
non pribumi. Aku tahu orang tuanya tentu tak merestui anaknya
berhubungan terlalu jauh dgn orang yg bukan dari ras mereka, dan
berlainan agama.

Walau begitu hatiku sudah bulat untuk kelak memiliki pasangan hidup
seorang pribumi, dan aku bahkan bersedia memeluk Islam sebagai agama
ku. Kelak keputusan hidupku ini akan menjadi perjalanan panjang dan
penuh cobaan dalam hidupku.

Selepas SMA aku melanjutkan study ke Ausie lalu ke negri paman sam,
mengikuti kakak2 ku yg sudah berada disana. Tak banyak yg perlu aku
ceritakan dgn masa2 studiku disana. Hampir 5 tahun kemudian aku
kembali ke tanah air, dengan gelar master di tangan dan aku mengabdi
ke perusahaan keluargaku untuk membesarkan bisnis mereka. Dalan
waktu singkat perusahaan kami memperoleh profit yg amat meningkat,
dan terus membesar, serta mulai merambah ke banyak sektor bisnis.
Aku banyak memiliki akses ke para petinggi di daerahku karena semasa
sekolahku dulu aku sudah mengenal beberapa keluarga mereka. Semua
urusan perijinan yg menyangkut perusahaanku, bisa aku selesaikan
dengan mudah. Aku masih tetap melajang di pertengahan usia 20an
tahun. Banyak pria2 yg berusaha menarik perhatian ku, dari
pengusaha2 muda yg sukses bahkan sampai pemilik perusahaan2 besar.
Tapi hatiku tak bergetar sama sekali. Aku belum menemukan seseorang
yg benar2 menjadi soulmate ku. Sekedar mencari suami amatlah mudah
bagiku, ibarat hanya menjentikan jari maka puluhan pria akan
mendatangi ku. Tapi aku benar2 mancari seorang soulmate, belahan
jiwa sejati untuk mendampingi ku.

Sampai suatu ketika perusahaan kami memperoleh karyawan baru dari
kantor cabang kami di pulau Jawa. Orangnya 3 tahun lebih tua dari
ku, wajahnya bersih, dia berasal dari etnis pribumi Jawa.
Tuturkatanya lemah lembut, sopan, tubuhnya tinggi, proporsional, dan
ah…ini dia..dia seorang muslim yg shaleh. Sejak kedatangan dia
dikantor kami, para wanita gak habis2nya membicarakan tentang dia,
dan berlomba bisa mendapatkan dia. Menurut laporan kantor kami, dia
amat rajin, jujur dan berprestasi di kantor yg lama, sehingga dia
dipromosikan pekerjaan yg lebih tinggi dan menantang di kantor kami
ini. Kebetulan kerjaan yg akan dia kerjaan akan menjadi satu divisi
dengan ku. Sehingga aku akan banyak berhubungan dengan dia.

Mula2 di bulan2 pertama aku masih bersikap ‘Jaim’ jaga image, karena
aku ini anak dari pemilik perusahaan ini. Tapi lama2, hatiku gak
bisa berbohong,.. hatiku sedikit tapi pasti, luluh juga…aku mulai
jatuh cinta. Pernah suatu ketika sehabis mengunjungi kantor gubernur
aku satu mobil dengan dia. Ditengah jalan dia minta ijin padaku
untuk berhenti sebentar di masjid raya di kota ku untuk shalat
ashar. Dari dalam mobil, aku perhatikan gimana dia berwudhu, lalu
melangkah masuk ke masjid dan melakukan ibadah….ahhh. .andai aku
kelak bisa mengikuti di belakang…. …

Awal2nya aku memanggil dia dengan sebutan formal dikantor ‘Pak’ dan
dia juga memanggilku ‘Ibu’..tapi lama2 kelamaan secara tak sengaja
aku mulai memanggil dia ‘mas’, karena aku sering lihat keluarga jawa
memanggil orang yg lebih tua, suami, kakak, dengan sebutan mas.
Mulanya dia agak rikuh tiap aku panggil demikian, tapi lama kelamaan
mulai terbiasa,. Tapi itu hanya aku lakukan apabila hanya sedang
berdua dengan dia, tidak didepan orang2 kantor. Akupun mulai meminta
dia memanggilku ‘Dik’, aku merasa risih tiap kali dia panggil
aku ‘Ibu Mawar’.

Seiring dengan waktu, sesuai pepatah jawa, “witing tresno jalaran
soko kulino”, cinta akan tumbuh karena terbiasa selalu bersama2.

Saudara2ku.. .

Bisa dibayangkan gimana awal kisah cinta kami…didalam mobil yg
disupiri sopirku, kami sama2 duduk dibelakang. Awalnya kami hanya
membicarakan dan membahas berkas2 pekerjaan, kadang secara tak
sengaja tangan kami saling sentuhan. Dan dia secara sopan segera
menarik, dan minta maaf..Ah..sebel rasanya..padahal akulah yg
menginginkannya. Tapi itu tak berlangsung lama, pada akhirnya dia
takluk juga, kadang aku biarkan tangan dia memegang berkas, lalu aku
pura2 membahasnya sambil tanganku menyentuh jari dan tangannya.

Kadang aku genggam jarinya,..dan lama kelamaan dia memberikan
response..dia juga menggenggam tanganku…ahh. .

Kadang kalau mobil kami sudah mau sampai tujuan, aku pura2 minta
supirku untuk kembali ketempat lain, aku pura2 ada yg
tertinggal.. padahal aku hanya ingin berlama2 dengan dia (sebut saja
mas Fariz) di mobil.

Pernah suatu ketika aku pura2 ada yg tertinggal dan suruh sopirku
membawa kami berdua ke rumah ku. Begitu mobil kami memasuki halaman
rumahku yg besar, wajahnya tampak pucat pasi. Dia tampak ketakutan
dan gugup. Dia bilang nanti kalau papaku (alias big boss dia) akan
marah kalau melihat dia jam kerja begini malah mampir kerumah dia.
Aku bilang tak perlu takut, bukankah aku, anaknya big boss, yg
membawa dia kesini.

Hampir setahun sudah dia bekerja bersama denganku, dan hubungan kami
sudah makin erat, tapi dia belum menyatakan cintanya padaku. Mungkin
dia takut aku akan menolaknya, apalagi keyakinan kami pada saat itu
masih berlainan. Hingga suatu ketika dia menelponku, dan mengajak
bertemu disuatu restoran di luar kota, dia memintaku datang tanpa
sopir. Dia tidak mau ada orang kantor yg melihat kami berdua. Di
restoran itu dia menyatakan cintanya padaku…langsung saat itu juga
aku terima. Dan aku katakan pada dia, kalau aku merasa mas Fariz
adalah soulmate ku. Aku akan bersedia memeluk Islam mengikuti agama
yg dia anut. Aku juga katakan kalau memang aku sudah sejak lama
tertarik dengan agama Islam, jadi mas Fariz semoga bisa menjadi
pembimbingku. Aku bisa melihat air mata dia meleleh dari kedua
matanya. Seumur hidupku baru kali ini aku melihat seorang laki2
berlinangan air mata karena aku, tak terasa akupun tak kuasa menahan
airmataku meleleh dipipiku. Aku yakin aku sudah
mendapatkan ‘Soulmate’ ku dan akan aku pertahankan sampai kapanpun
dan dengan cara apapun.

Di kantor kami tetap bekerja seperti biasa, seperti tak ada hubungan
suatu apapun. Tetapi diluar kantor kami benar2 sepasang kekasih yg
lagi jatuh cinta, dia mulai mengajariku shalat, dan sedikit2 bacaan
doa. Dia memang benar2 lelaki yg taat, dia menjaga kesopananku, tak
pernah melebihi batas, walau kadang aku yg menggoda, tapi dia selalu
bilang, sabar..tunggu tanggal mainnya. Tapi serapat apapun kami
tutupi hubungan kami, akhirnya sedikit demi sedikit bocor juga oleh
orang2 kantor kami. Sampai akhirnya terdengar di telinga papaku.

Sutu hari tiba2 papaku datang ke ruangku, padahal papaku amat sangat
jarang datang ke ruang kerja ku, kalau ada keperluan biasanya aku yg
dipanggil menghadap. Aku lalu diajak bicara berdua dengan beliau.
Mula2 papa tidak menanyakan hubungan ku dengan Fariz, tapi sedikit
demi sedikit dia mulai mengarahkan pembicaraan ke arah sana. Sampai
akhirnya dia menanyakan kebenaran hubungan ku dengan Mas Fariz. Aku
tak sanggup menjawab, wajahku tertunduk. Papaku terus menatapku,
menunggu jawabanku. Aku tak sanggup berbohong, kalau aku bilang
tidak, itu bertolak belakang dengan hati ku, sebaliknya kalau aku
bilang Iya, aku khawatir kerjaan Mas Fariz akan manjadi taruhannya.
Akhirnya aku hanya bisa menangis….

Keesokan harinya, Mas Fariz tidak hadir lagi dikantor,menurut orang2
kantor, dia dipindahkan kembali ke pulau Jawa mulai hari ini, dan
aku mulai kehilangan kontak dengan dia.

Seminggu kemudian dia menelpon ku, dia cerita panjang lebar, bahwa
pada hari itu, setelah papa menemui ku, ternyata papa langsung
menemui dia, dan keesokan paginya dia sudah harus kembali ke kantor
yg lama. Dia juga cerita kalau keadaan makin parah, karena nyaris
tiap karyawan dikantornya sudah mendengar kabar hubungan dia dengan
aku. Dan banyak yang menggunjingkan kalau mas Fariz, mengincar harta
dan kedudukan, karena berpacaran dengan anak pemilik perusahaan. Dia
sampai berulang kali menyebut nama Allah, dan bersumpah kalau dia
mencintaiku bukan karena itu semua.

Dua minggu kemudian, dia memutuskan mengundurkan diri dari perusaan
kami, tapi kami tetap saling berhubungan melalui telp. Dia berjanji
mencoba mancari pekerjaan di perusahaan lain yg punya cabang di
kotaku, sehingga bisa bekerja dikotaku dan kembali menemui ku. Tuhan
memang sudah berencana, akhirnya 3 bulan kemudian mas Fariz sudah
mendapat pekerjaan dan di tempatkan kembali di kotaku walau dengan
gaji yang jauh lebih kecil. Dia bilang sekarang sudah bebas
berhubungan dengan ku, dia tidak ada ikatan apa2 dengan perusahaan
ku. Tak ada yg bisa melarang. Aku amat terharu, dia korbankan karir
pekerjaannya karena aku. Aku berjanji apapun yg terjadi aku tak akan
tinggalkan dia.

Sekarang kami bebas behubungan tak perduli lagi dengan omongan
orang2 kantor, karena dia toh tak lagi bekerja di perusahaan kami
ini. Tapi ternyata papa kembali mengetahui ini, dan kali ini malahan
mama ikut turun tangan. Aku diceramahi habis2an..

Mereka sebenarnya tidak membeda2kan ras, mereka tidak keberatan aku
berhubungan dgn siapapun, tapi mereka mulai curiga kalau aku mulai
akan pindah keyakinan. Dan itu mereka kurang bisa menerima. Aku
sudah jelaskan baik2 bahwa aku sudah cukup dewasa dan bisa mengambil
keputusan buat hidupku sendiri tanpa tergantung papa dan mama.
Ternyata jawabanku yg demikian itu membuat mereka tambah murka dan
tersinggung. Mereka katakan bahwa tanpa mereka jalan hidupku tidak
akan seperti ini. Banyak orang yg akan rela mati demi merasakan
hidup seperti ku. Rumah mewah, sopir tersedia tiap saat, mobil mewah
ada di garasi, uang melimpah, dihormati kemana aja pergi, dll.
Mereka juga katakan, tanpa mereka aku tak akan pernah sanggup
memperoleh kehidupan spt ini. Aku hanya menangis mendengar apa yg
mama papa ku katakan. Tapi hatiku sudah bulat apapun yg terjadi aku
tak akan tinggalkan Mas Fariz. Cinta pertamaku dan terakhir.

Walau orang tua ku terus menentang, cintaku ke mas Fariz tak pernah
surut. Akupun makin giat memperdalam agama Islam. Seringkali aku
saat istirahat kantor, aku pergi ke toko buku besar di Mal. Aku
baca2 buku tentang Islam. Pernah aku ajak orang kantor untuk ikut
aku ke toko buku tsb. Dan dia tegur aku, karena dia pikir aku salah
memilih bagian rak buku. Dia ingatkan aku kalau aku di bagian rak
buku2 Islam. Aku bilang memang benar, aku mau membaca buku2 tentang
Islam.

Makin hari hubunganku dengan papa mama makin renggang. Padahal aku
sudah bicara sebaik mungkin dengan mereka. Kakak2ku semuanya juga
sudah terprovokasi. Mereka mulai menjauhiku. Kedua kakak laki2 ku
sudah menikah dan menetap di Jakarta menjalankan perusaahan kami
disana, sehingga papa dan mama sekarang lebih banyak menetap dikota
kami.

Dirumah, perlakuan mereka makin hari makin berubah terhadap ku. Aku
makin dianggap bukan lagi bagian keluarga mereka. Tiap makan malam,
mereka tak lagi mengajakku makan bersama2 di meja makan. Pembantu
dirumah baru disuruh memanggilku untuk makan apabila papa mama dan
kakak perempuanku sudah selasai makan, dan makanan yg ada dimeja
makan, sisa mereka, yg aku makan. Pembantu tidak diperbolehkan
menambah makanan. Bayangkan, aku memakan seadanya sisa dari mereka.
Andai mereka makan ayam, maka aku hanya tinggal kebagian ceker dan
kepalanya saja. Bisa dibanyangkan bagaimana sakit hatiku rasanya.
Tapi aku tetap bersabar, dan mas Fariz selalu mengingatkan aku untuk
tetap berbakti pada orang tua. Padahal kalau aku mau, bisa saja aku
pergi ke restoran yg paling mahal di kota ku ini.

Puncak dari semua itu terjadi pada suatu malam.

Kakak perempuanku memang sebenarnya kasihan kepadaku, sehingga
kadang dia menyimpan sebagaian makanan yg baru dimasak didapur.
Sehingga pada saat mama papa selesai makan, dia diam2 menghidangkan
untukku. Suatu ketika secara tak terduga, papa mama ku kembali ke
meja makan, dan mereka memergoki kakak ku yg membawa makanan yg dia
simpan di dapur untukku. Langsung mamaku merebut piring yg dibawa
kakakku, dan melemparkannya ke lantai..Sambil menyindir, bahwa
kakakku tak perlu kasihan pada ku, karena aku sanggup hidup tanpa
diberi makan dari mama papa dan bisa hidup mandiri tanpa mereka.
Ohh….Mereka rupanya sudah amat membenciku.. .Hancur berkeping2
hatiku pada saat itu. Aku hanya bisa menangis, tapi aku tak
menyesal, dan aku akan terus bertahan dengan pilihan hidupku.

Mas Fariz, menyarankan aku untuk bicara baik2 dengan mama dan papa,
mudah2an mereka akan luluh dan mengerti. Suatu malam, aku
berkesempatan mendatangi dan berbicara dengan mereka, dan aku secara
baik2 dan sopan, tak lupa meminta maaf apabila aku salah pada
mereka. Aku jelaskan baik2 pada mereka apa yg hatiku rasakan, aku
tumpahkan semuanya. Tetapi justru itu membuat mereka tambah murka,
mereka juga malah menuduhku telah diguna2, dan menyarankanku supaya
sadar. Oh Ya Allah…Aku sehat wal afiat, Insya Allah saat itu tak
ada satupun guna2 pada diriku. Semua keinginanku adalah murni dari
hatiku, panggilan jiwaku, yg tak bisa lagi aku cegah. Aku jelaskan
pada mama dan papa, bahwa aku sudah cukup umur, dan bukan lagi gadis
remaja lagi, sehingga apapun keputusanku, aku bisa
pertanggungjawabkan . Aku bisa mandiri andai keputusan hidupku itu
memang menghendaki demikian. Papa dan mamaku tetap pada pendirian
mereka, bahkan mereka menantangku, kalau sanggup hidup mandiri,
sekarang juga serahkan seluruh harta ku yg aku punya selama ini, yg
aku dapat selama hidup dengan mereka.

Karena tekatku sudah bulat. Malam itu pula seluruh kartu credit,
ATM, buku2 bank, aku serahkan pada mereka. Uang yg aku punya benar2
hanya tinggal yang ada di dompetku. Aku sepertinya tinggal menunggu
waktu saja untuk meninggalkan rumah ini. Keesokan paginya, karena
ada suatu keperluan aku ingin membuka lemari besi tempat penyimpanan
surat2 berharga di rumah kami. Tetapi berulang kali aku mencoba, aku
tak bisa membukanya. Ternyata nomor kombinasinya sudah diubah olah
mama papaku. Padahal didalamnya ada barang2 penting pribadiku,
seperti Ijasah, perhiasan, dll. Aku mencoba menelpon papaku,
menanyakan hal ini, dan lagi2 aku mandapatkan jawaban yg menyedihkan
hatiku. Papaku menyindirku, kalau sanggup hidup mandiri, kenapa
masih mau membuka lemari besi milik keluarga, pasti ada barang2 yg
mau dijual didalamnya. Aku benar2 sudah dikucilkan, dan mereka
benar2 mencoba menyiksaku dengan cara demikian, sehingga mereka
pikir aku akan menyerah, dan akhirnya mengikuti apa yg mereka mau.
Aku adukan semua itu ke mas Fariz, dan aku katakan kalau aku akan
meninggalkan rumah orang tua ku. Dia tak bisa berkata apa2. Hanya
ingatkan aku jangan sampai memutus silaturahmi dengan orang tua.

Saudara2 ku..

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku benar2 meninggalkan rumah.
Aku akan tinggal kost didekat kantorku. Aku berpamitan baik2 pada
mama dan papa ku. Tapi mereka menolehpun tidak. Aku masih punya
cukup uang di dompet. Aku bersumpah tak akan meminta uang lagi
sepeserpun dari mereka. Aku bertekad membuktikan kata2 ku untuk
hidup mandiri tanpa harta siapapun demi mempertahankan keyakinan ku.
Selama aku bekerja diperusahaan papaku, memang secara formal aku di
gaji sesuai dengan posisi kerjaku di perusahaan.Tapi disamping itu
tiap bulan, tentu diluar formal perusahaan, aku mendapat uang saku
dari papa ku yg lumayan banyak, hampir 20x lipat dari gaji resmiku.
Sehingga penghasilan total sebulan bisa cukup untuk hidup mewah
setahun. Bahkan seluruh uang simpananku di bank, sudah mencapai
10digit. Tentu bukan jumlah sedikit. Bahkan mungkin cukup untuk
biaya hidup seumur hidupku tanpa bekerja.

Aku berharap perusahaan papaku masih memberikan gajiku, dan itu aku
anggap memang uang hasil kerjaku, bukan pemberian. Tapi diakhir
bulan aku tak memperoleh sepeserpun. Aku sudah meminta agar bisa
diberikan cash. Ketika aku tanyakan ke bagian pembayaran gaji,
ternyata mereka sudah diperintahkan papaku untuk menahan gajiku. Ya
Allah, mereka benar2 melakukan cara apapun agar aku benar2 menderita
dan pada akhirnya menyerah.

Saat itu juga aku langsung mengundurkan diri dari perusahaan papaku
itu. Aku tinggalkan perusahaan itu selama2nya.

Ketika aku adukan hal ini pada mas Fariz dia amat sangat sedih dan
meminta maaf padaku, karena gara2 dia hidupku jadi menderita. Dia
rela andai aku tidak kuat dan merubah keputusan. Aku peluk dia, dan
aku pastikan keputusanku tak akan berubah, dan aku makin ingin bisa
hidup bersama dia. Saat itu hanya dialah sandaran hidupku. Dengan
berlinangan air mata, dia sekali lagi menanyakan padaku, apakah aku
menyesal dengan keputusanku, dan apakan aku rela bila menjadi
muslimah dan menjadi istrinya. Saat itu juga aku cium tangannya, dan
aku katakan, aku korbankan seluruh kehidupanku hanya untuk bisa
hidup bersamanya, dan aku tak akan mudur ataupun menyesalinya,
apapun yg terjadi aku akan hadapi iklas lahir dan batin.

Singkat cerita, dengan diantar mas Fariz aku mengucapkan 2 kalimah
sahadat di sebuah masjid dikota kami, disaksikan imam dan beberapa
jemaah masjid tsb. Akhirnya penantian panjangku tercapai sudah,
walau harus mengorbankan kehidupanku. Tapi aku tak pernah menyesali.

Mas Fariz lalu mengajakku segera menikah di kota kelahirannya,
karena kebetulan perusahaan tempat dia bekerja akan memindahkan dia
ke pulau Jawa.

Sebelum menikah, kami berdua mendatangi rumah papa dan mama, kami
akan mohon restu baik2 pada mereka. Tetapi bapak satpam yg berjaga
dipintu gerbang mengatakan kalau dia diperintahkan untuk tidak
membuka pintu apabila kami berdua datang. Sebenarnya bapak satpam
tersebut bersedia membuka pintu karena dia masih mengenalku. Tapi
aku melarangnya, karena khawatir akan mencelakakan pekerjaan dia.
Biarlah cukup aku saja yg menderita, aku tak ingin orang lain ikut
terkena akibatnya. Aku tinggalkan secarik surat, yg isinya memohon
doa restu dari mama papa, bahwa aku akan menikah dengan mas Fariz,
juga aku katakan kalau aku sudah jadi muslimah. Aku bisa lihat mata
bapak satpam itu berkaca2 sewaktu aku katakan aku sudah jadi mualaf.

Awalnya keluarga mas Fariz menanyakan ketidakhadiran keluargaku
dipernikahan kami. Tapi setelelah mas Fariz ceritakan panjang lebar,
akhirnya keluarga mau memahami. Kami menikah secara sederhana di
kota tempat keluarga mas Fariz bermukim. Keluarganya amat sangat
menerimaku dengan hangat, mereka sama sekali tidak mempermasalahkan
ras keturunanku. Malah ibu mertuaku amat sayang padaku.

Setelah menikah, aku dan mas Fariz menetap di pulau Jawa. Aku amat
sangat bahagia, bisa menjadi pendamping hidup dia. Aku merasakan dia
bukan sekedar suami, tapi memang benar2 soulmate hidupku, yg aku
cari2 sepanjang hidupku.

Aku hidup dirumah yg sederhana dan hari2ku aku lalui dengan penuh
kebahagiaan, dan aku tak mengeluh sedikitpun dengan yg mas Fariz
berikan untukku. Aku tak lagi bekerja, karena aku benar2 ingin
mengabdi pada suamiku, dan disamping itu semua ijasahku masih
tersimpan di lemari besi di rumah mama papa, aku tak bisa melamar
pekerjaan dimanapun. Aku juga tak mau meminta surat keterangan
bekerja di perusahaan papaku. Aku ingin buktikan bisa hidup mandiri
dengan suamiku. Mas Fariz amat sangat menyayangiku, tiap pagi
sebelum berangkat ke kantor dia memeluku. Tiap hari aku bawakan
dia ‘lunch box’ untuk makan siang karena aku tak mau makanan yg
masuk ke perutnya berasal dari masakan orang lain. Aku benar2
posesif, ingin memiliki dan melayani dia secara total. Setiap hari
aku bangun sebelum dia bangun, dan aku baru tidur setelah dia benar2
tidur, untuk memastikan dia sudah benar2 tak perlu aku layani lagi.
Aku siapkan celana, baju, kaus kaki dia tiap pagi sebelum berangkat
kerja. Sehingga dia tak perlu lagi memikirkan pakaian apa yg harus
dia pakai tiap pagi. Bahkan aku potongkan kukunya bila sudah panjang
Pokoknya dia benar2 aku jadikan pangeran bagi diriku.

Tiap malam sebelum tidur, kami selalu mengobrol dan saling
mengajarkan bahasa. Dia mengajariku bahasa jawa, sadangkan aku
mengajari dia bahasa mandarin. Dia amat cepat belajar mandarin,
dalam waktu singkat dia sudah menguasai beberapa kata2 yg umum
diucapkan, kadang dia mengajak ku bicara mandarin dirumah. Memang
perusahaan tempat dia bekerja milik keluarga dari etnis keturuan
seperti aku, dan banyak behubungan dengan warga keturunan, sehingga
bila mampu berbahasa mereka akan merupakan keuntungan tambahan.

Suatu ketika dia pulang membawa sepeda motor, dia katakan kalau
kantornya memberinya pinjaman cicilan motor. Memang hanya sepeda
motor, tapi aku sangat bahagia sekali dengan yg dia dapatkan.
Berulangkali dia minta maaf tidak bisa belikan aku mobil mewah
seperti yg aku pernah aku miliki dulu. Aku katakan pd dia motor yg
sekarang kita miliki bagiku jauh lebih mewah dari mobil yg dulu aku
miliki. Karena motor ini bukan sekedar dibeli dengan uang, tapi juga
cinta, yg tak akan ternilai berapapun banyaknya uang.

Kehidupan perkawian kami amat indah, kalau dirumah nyaris kami tak
bisa berjauan. Karena tiap hari bagi kami adalah bulan madu, maka
hanya setahun kamudian lahirlah anak pertama (dan satu2nya) kami.
Bayi laki2 itu kami namai ,sebut saja ‘Faisal’. Mas Fariz yg
membacakan Azan dan qomat, ketika bayi kami lahir. Aku merasa
lengkap sudah kebahagiaanku. Tiap hari aku tambah bahagia bisa
merasakan ada 2 orang “Fariz” didalam rumahku. Saat mas Fariz ke
kantor, aku di temai Fariz kecil, bayiku. Oh alangkah bahagianya.
Aku mencintai 2 orang yg sama darah dagingnya.

Tiga tahun sudah anak kami hadir bersama kami. Mas Fariz terus
bercita2 ingin mendatangi orangtua ku, oma opa si Faisal. Dia benar2
ingin memperkenalkan cucu mereka dan menyatukan aku dengan papa mama
ku lagi. Dia berharap dengan kehadiran Faisal, akan meluluhkan hati
orang tuaku. Tapi tiap kali aku menelpon papa mama ku masih bersikap
seperti dulu, bahkan waktu aku katakan bahwa mereka sudah mempunyai
cucu dari ku, mereka hanya menjawab, kalau mereka tidak merasa
mampunyai keturunan dari ku..Ohh malangnya anakku. Aku amat sedih,
teganya papa dan mama ku berkata spt itu. Aku masih memaklumi
apabila mereka membenciku, tapi jangan pada anakku, cucu mereka,
darah daging mereka sendiri.

Mas Fariz hanya menyuruhku bersabar, dia percaya kelak papa dan mama
akan menerima mereka. Tapi sebelum harapan mas Fariz terpenuhi,
musibah mulai datang….

Suatu ketika, mas Fariz pulang kerumah lebih awal, dia Cuma merasa
gak enak badan seperti orang masuk angin.Aku menyuruhnya segera
istirahat dan tidur, dan memberi obat penghilang sakit. Malam
harinya, tubuhnya mulai panas dan menggigil. Keesokan paginya aku
mengantar dia ke dokter, waktu itu dokter hanya katakan kalau mas
Fariz hanya demam biasa sehingga hanya diberi obat penurun panas,
dan disuruh istirahat. Tapi malamnya tubuh nya tetap panas, dan
menggigil, bahkan sampai mengigau. Aku sudah ajak mas Fariz untuk ke
rumah sakit keesokan harinya. Tapi dia menolak, karena dia bilang
hanya demam biasa, dan tak apapa, beberapa hari pasti sembuh. Sampai
hari ke empat kondisinya makin parah, akhirnya disampai tak sadarkan
diri, bahkan dari hidungnya kaluar darah. Dengan pertolongan para
tetangga, suamiku segera dibawa ke RS. Hasil pemeriksaan daranhnya
menunjukan trombositnya hanya tinggal 26ribu. Padahal orang normal
harus diatas 150rb. Suamiku terkena demam berdarah, Dokter
menyalahkan aku kenapa tidak segera dibawa ke RS lebih awal, karena
serangan terberat demam berdarah adalah pada hari 5. Kalau kondisi
tubuh tidak kuat, bisa amat berbahaya. Besoknya, hari ke 5, memang
benar2 makin parah kondisi suamiku, napasnya makin berat,
trombositnya belum beranjak naik, tubuhnya udah benar2 digerogoti
penyakit itu., malam itu setengah mengigau, dia memanggil namaku,
lalu aku genggam tangannya dan aku dekati telingaku ke mulutnya, aku
bisa dengarkan dia mencoba mengucapkan sesuatu, dan air matanya
meleleh. Dia coba ucapkan kata2 “Maafkan aku” lalu aku tenangkan
dia, kalau tak ada yg perlu dimaafkan. Aku iklas lahir bathin
mendampingi dia. Setelah mendengar kata2ku, dia tampak tenang, lalu
dengan satu tarikan napas dia coba mengucapkan “Lailahailallah” lalu
dia pergi selama2nya meninggalkan aku. Dia pergi di pelukan ku. Aku
ingat suatu ketika dia pernah berucap, andai Tuhan mengijinkan, dia
ingin meninggal terlebih dahulu dari aku, dan dalam pelukanku, sebab
ia ingin aku menjadi orang terakhir dalam hidupnya yg dia lihat. Aku
sempat memarahi dia, jangan bilang seperti itu. Tapi dia bilang
serius, kalau dia gak akan sanggup kalau aku yg menginggalkan dia
terlebih dahulu. Ternyata Tuhan benar2 mengabulkan permohonan dia.
Orang yg aku jadikan sandaran satu2nya dalam hidup ini telah pergi
selama2nya. Tak terkirakan amat sedih dan hancurnya hatiku. Andai
aku tak ingat dengan si kecil Faisal, mungkin aku sudah ingin segera
mengusul mas Fariz dialam sana.

Mas Fariz benar2 orang yg jujur dan baik, waktu penguburan seluruh
rekan2 kerja, bahkan big boss tempat bekerja hadir. Waktu aku
tanyakan apakah ada hutang piutang mas Fariz yg harus aku
selesaikan. Mereka katakan tidak ada sama sekali, bahkan kantornya
memberikan santunan 4x gaji, ditambah uang duka dari rekan2nya. Aku
juga ditawarkan bekerja di perusahaan tsb. Tapi untuk saat itu aku
benar2 gak sanggup melakukan apapun. Aku merasa setengah dari
nyawaku sudah hilang. Selama 3 bulan aku berduka, aku tak sanggup
pergi dan melakukan apapun. Bahkan tiap tidur, aku masih
membayangkan mas Fariz disampingku. Akhirnya untuk semantara waktu
aku tinggal dengan ibu mertuaku, supaya Faisal ada yg mengasuh.
Rumah dan motor aku jual, karena aku tak sanggup membayangkan
kenangan bersama mas Fariz tiap aku melihatnya. Hampir setengah
tahun tinggal dengan mertuaku, sampai akhirnya aku putuskan kembali
ke kota asalku. Sebenarnya ibu mertuaku amat baik dan sayang padaku.
Tapi aku tahu diri gak mungkin selamanya bergantung pada siapapun.
Aku harus bisa mandiri, membesarkan anakku, satu2nya hartaku yg
tersisa.

Aku pulang ke kota asalku dengan sisa uang yg aku punya.Lalu aku
mengontrak rumah, dan membuka toko kecil2an di depannya. Tetapi
mungkin karena aku masih terus berduka dan terbayang suamiku,
sehingga aku kadang kurang memikirkan usahaku ini, sampai akhirnya
usahaku ini bangkrut. Tokokupun aku tutup, uangku habis untuk
membayar tagihan2 para suplier barang, semantara penjualanku tak
seberapa menguntungkan.

Aku sebenarnya tidak pernah putus asa, apapun aku jalani asal halal.
Pernah aku coba jadi pelayan restoran, tapi hanya beberapa bulan ,
karena anakku tak ada yg jaga. Sampai akhirnya aku benar2 kehabisan
uang, tak sanggup lagi membayar kontrakan. Dengan mambawa koper isi
pakaian, aku menggendong anakku, berjalan tanpa tujuan. Aku benar2
bingung akan kemana. Pernah terlintas di benakku untuk kembali ke
keluargaku. Tapi justru dengan kondisi seperti ini mereka pasti akan
merasa menang. Mereka akan tertawa terbahak2 dan terus bisa
mengejeku seumur hidupku, bahwa aku gagal dalam memilih jalan hidup.
Akhirnya ditengah rasa putus asa, aku teringat masjid tempat dulu
aku pertama kali mengucapkan kalimat sahadat. Masjid itu memang
bukan masjid raya dikota kami, tapi karena masjid yg tua dan
bersejarah, maka banyak jemaah yg datang. Aku berpikir, dulu aku
memulai jalan hidupku dari masjid itu, sehingga kalaupun jalan
hidupku berakhir aku ingin di masjid itu pula. Aku datangi masid
tsb. Dan aku shalat mohon petunjuk. Anakku karena kelelahan tertidur
di sampingku. Aku tak punya uang untuk membeli makanan. Akhirnya aku
hanya bisa menangis. Rupanya tangisku didengar oleh seorang bapak,
dan beliau rupanya imam masjid tersebut, dan dia yg dulu
membimbingku membaca sahadat. Aku tak lupa dengan wajahnya, tetapi
dia pasti sudah tak ingat dengan wajahku, karena wajahku tak sesegar
dulu lagi. Sewaktu aku perkenalkan diriku dan aku katakan bahwa aku
dulu mualaf yg beliau bimbing, dia langsung ingat tapi juga kaget
dengan kondisiku yg seperti ini.

Akhirnya aku ceritakan semuanya pada beliau, sebab aku merasa tak
ada lagi orang di dunia ini yg aku jadikan sandaran hidupku.

Setelah selesai mendengar ceritaku, dia menyuruh aku agar jangan
pergi kemana2, dan tetap tinggal di masjid, beliau juga menyuruh
salah seorang jemaah untuk membelikan makanan untuk aku dan anakku.
Sebentar kemudian dia pergi meninggalkan ku, sambil berpesan akan
segera kembali menemuiku (rupanya dia pergi mencari tempat untuk aku
bisa tinggali). Tak lama beliau kembali menemui ku, sambil tersenyum
dia katakan, mulai malam ini aku sudah memperoleh tempat tinggal.
Aku diajak ke belakang masjid, disitu ada sebuah bagunan tambahan yg
terdiri dari beberapa ruangan. Biasanya ruangan itu untuk gudang
menyimpan peralatan masjid, seperti tikar, kursi2, dll. Salah satu
ruangnya tampak sudah kosong, dan dia menunjuk bahwa itu lah rumah
ku. Aku boleh menempatinya selama mungkin aku mau. Ruang
disebelahnya ditempati olah pak tua penjaga masjid, sehingga aku ada
yg menemani. Ruangan tsb hanya berukuran kurang lebih 2x2m. Pak Imam
masjid itu juga menambahkan, kalau nanti aku diberikan honor
sekedarnya, kalau mau membantu2 membersikan masjid, sehingga cukup
untuk makan. Bahkan beliau menambahkan kalau aku bisa datang
kerumahnya sekedar2 membantu2 istrinya memasak, kerena memang rumah
beliau hanya beberapa ratus meter dari masjid.

Alhamdulilah, aku amat bersykur ternyata Allah mendengar doaku. Aku
ingat, bahwa Allah tak akan menguji hambanya dengan melebihi beban
yg sanggup dia pikul. Aku sudah bersykur bisa memperoleh tempat
berteduh, walau hanya kamarnya kecil (jauh lebih kecil dibanding
kamar mandiku, saat dirumah orang tuaku). Ada lagi yg membuatku
merasa tenang, karena ku tinggal berdekatan dengan rumah Allah, tiap
aku merasa sedih, aku tinggal masuk kedalam masjid, dan mengadukan
langsung pada Allah. Karena tinggal dekat dgn masjid, otomatis
sahalatku tak terlewatkan sekalipun. Alhamdulilah hidupku sedikit2
demi sedikit mulai tenang. Aku sering membantu istri pak Iman
memasak dirumahnya, dan sebagai imbalannya, beliau selalu membekali
makanan untuk aku bawa pulang. Sehingga aku tak perlu risau
memikirkan makanan sehari2. Kalau pak Imam sekeluarga ada keperluan
keluar kota, akulah yang dititipi untuk menjaga rumahnya, dan aku
bisa tinggal dirumahnya. Sebenarnya mereka sudah menawarkan aku
untuk tinggal bersama mereka. Tapi aku tahu diri tak mau terus
menerus merepotkan orang lain.

Pekerjaanku rutinku tiap hari adalah, membersihkan halaman masjid,
membersihkan kaca2 jendela, Sedangkan pak tua mengepel lantai
masjid. Tiap minggu aku mendapakan honor sekedarnya dari hasil kotak
amal di masjid, tapi kadang aku tak mendapatkan sepeserpun, karena
kadang sudah habis untuk keperluan masjid, tapi aku lakukan itu
dengan senang hati dan iklas. Sementara ini aku benar2 ingin
mengabdi pada Masjid ini, sebagai tanda terimakasih ku. Aku tak mau
bersusah payah kesana kemari mencari pekerjaan, Aku percaya kelak
masjid ini pula yang akan memberiku jalan memperoleh pekerjaan.

Kadang malam hari aku duduk2 diteras masjid, mengobrol dengan pak
tua. Dia bercerita kalau anak2nya masih ada di kampung, tapi dia
juga tak mau merepotkan anak2nya. Selama masih kuat, dia tak mau
merepotkan orang lain. Lalu saat giliran aku cerita, kadang aku
bingung harus cerita apa..??? Apa aku ceritakan kalau dulu aku
pernah naik kapal pesiar keliling eropa, atau aku pernah menginap di
hotel mewah di las vegas, atau aku punya apartment mewah di
Australia..Ahh pasti dia akan tertawa dan menganggap aku berhayal,
sebab jangankan tinggal dihotel, sekarang ini uang yg aku punya tak
lebih banyak dari 20ribu..

Dulu tiap minggu aku bisa membeli peralatan make up, eye shadow,
lipstick, dll jutaan rupiah. Sekarang ini make up ku hanyalah air
wudhu ku tiap aku shalat. Tetapi justru banyak yang mengatakan kalau
wajahku tetap bersih, cantik, alami. Kadang orang berpikir aku masih
memakai make up. Yah..mungkin Allah yang memakaikan make up untuk
ku. Kecantikan datang dari dalam. Inner Beauty. Banyak yg bilang,
dengan mata sipit ku dibalik kerudung, aku terlihat cantik.

Tak terasa aku sudah hampir 2 tahun menetap di masjid itu, anakku
sudah sekolah di SD dekat masjid milik suatu yayasan dan tanpa
membayar sepeserpun. Aku hanya membelikan seragam dan alat2 sekolah.
Bahagianya hatiku melihat anakku sudah masuk sekolah..oh, seandainya
mas Fariz masih ada dan melihat anak kita dihari pertama pergi ke
sekolah.. Anaku rupanya tumbuh besar dalam keprihatinan, sehingga
dia sangat tahu diri, dia tak pernah sekalipun merengek2 minta
dibelikan ini itu seperti layaknya anak2 lain. Pernah hatiku amat
terenyuh. Ketika dia pulang sekolah dengan kaki telanjang, sambil
menenteng2 sepatunya. Sambil tertawa, tanpa mengeluh, dia malah
menunjukan sepatunya kepadaku “Ma, sepatu Faisal udah minta makan”.
Maksudnya sepatunya udah robek depannya, seperti mulut minta makan.
Melihat dia tertawa, akupun ikutan tertawa, walau hatiku rasanya
ingin menangis. Andai dia tahu, dulu mamanya selalu memakai sepatu
berharga jutaan rupiah, sekarang ini membelikan sepatu anaku yg
murahpun aku belum sanggup. Alhasil selama 2 hari anakku kesekolah
memakai sepatu yg robek itu, sampai akhirnya aku belikan sepatu
bekas.yg lebih layak dipakai. Aku bersykur mempunyai anak yg amat
tahu diri. Tak mau membebani ibunya. Memang anak yg shaleh akan
menjadi bekal yg amat bernilai buat orang tua. Pak Imam mesjid
kadang menengok kami, dan menanyakan keadaan kami. Dia sering
cerita, gimana istri nabi Muhammad dulu hidupnya jauh lebih
menderita, tetapi tetap tabah menghadapi cobaan dan tak goyah
keimanannya. Beliau kadang bilang, kalau aku pasti akan jadi ahli
surga. Berulangkali dia bilang, kalau orang lain gak akan mungkin
sanggup menghadapi cobaan ini, tapi aku tetap bertahan memegang
keyakinan, meninggalkan kenikmatan dunia yg justru pernah aku
peroleh.

Suatu siang, aku melihat ada mobil datang ke halaman masjid, dari
dalam mobil itu keluar 2 orang yg aku masih kenal. Yang satu
perempuan bernama tante Grace, yg satunya lagi laki2 oom Albert.
Mereka berdua merupakan lawyer untuk perusahaan dan keluarga kami.
Entah gimana mereka bisa mengetahui aku ada disini. Mereka mambawa
sebundel amplop, dan mengajak aku berbicara. Aku bisa lihat mata
tante Grace yg memerah menahan air mata sewaktu dia melihat tempat
aku tinggal. Bahkan oom Albert suaranya bergetar seperti lehernya
tersekat menahan sedih. Mereka katakan diutus oleh orang tua kami.
Karena orang tua kami sudah tahu gimana keadaan ku sekarang. Mereka
katakan didalam amplop yg mereka pegang isinya surat2 bank, ATM,
Ijasahku, yg bisa aku miliki lagi. Bahkan aku dijemput untuk pulang
ke rumah mama papa ku. Sejenak aku berbahagia, aku pikir orang tuaku
sudah terbuka hatinya, aku bisa pergunakan uang yg cukup banyak itu
untuk hidup yg lebih baik dgn anakku. Tetapi dengan suara terpatah2
om Albert melanjutkan, bahwa mama dan papa memberi syarat. Ketika
aku tanyakan apa syaratnya. Mereka berdua nyaris tak sanggup
melanjutkan pembicaraan. Tante Grace makin menunduk menahan tangis.
Akhirnya om Albert mengatakan kalau syaratnya aku dan anakku harus
kembali ke keyakinan yg dulu aku anut. Saat itu juga aku langsung
menjawab, kalau aku tak akan mau menerima amplop itu, dan aku
katakan agar kembalikan ke orang tuaku. Mereka amat sangat minta
maaf padaku, karena mereka tahu aku tersinggung. Tapi aku juga sadar
mereka hanya menjalankan tugas. Bahkan tante Grace menambahkan,
andai mengikuti hati nurani pasti mereka udah serahkan itu amplop
pada ku tanpa syarat apapun, tapi mereka terikat profesi mereka.
Akhirnya mereka pamit meninggalkan ku. Tapi beberapa saat kemudia
mereka balik kembali menemui ku, aku pikir mereka akan membujukku.
Tapi rupanya mereka berinisiatif memfoto copy ijasah2 ku dan
menyerahkan copynya ke aku. Mereka lakukan atas inisiatif mereka
sendiri, walau dengar resiko kehilangan pekerjaan. Mereka katakan
hanya itu yg bisa mereka bantu untukku. Oh terima kasih
tuhan…Sedikit2 Tuhan memberikan jalan untuk ku.

Akhirnya aku punya bukti kalau dulu aku pernah sekolah tinggi sampai
di luar negri.

Rupanya Tuhan sudah cukup mengujiku, dan sepertinya aku mulai
diberikan rewards atas ketabahanku selama ini. Tuhan mulai
memberikan jalan yg terang untuk ku.

Suatu pagi di halaman masjid tampak 2 orang perempuan yg sedang
mengamati bangunan masjid. Satunya seorang bule entah dari negri
mana, sedangkan satunya lagi perempuan lokal.

Kebetulan pak tua sedang di halaman, sehingga mereka menghampirinya,
masjid tsb memang unik, karena merupakan bangunan tua, dengan
arsitektur melayu kuno, sehingga kadang sering dikunjungi orang, dan
biasanya pa tua lah yg menjadi juru bicara, karena memang dia yg
tahu sejarah masjid tsb. Akupun banyak mendapat carita dari pak tua
tetang masjid tsb sehingga aku tahu banyak pula tentang sejarah
masjid tsb.

Aku hanya perhatikan dari jauh, dua orang pengunjung itu ngobrol
dengan pak tua, sampai akhirnya aku lihat si bule agak kebingungan.
Didorong rasa ingin tahu, aku hampiri mereka. Dengan sopan aku
perkenalkan diri, dan menawarkan diri untuk membantu. Ternyata si
bule itu adalah mahasiswi arsitektur dari Australia yg sedang
mealkukan study, sedangkan pendampingnya adalah mahasiswi arsitektur
dari univ. T di kotaku yg bertugas sebagai penterjemah, panggil
saja ‘Retno’. Rupanya si mahasiswi lokal tsb kurang lancar bahasa
Inggrisnya sehingga membuat si bule kadang kebingungan mendengar
terjemahan cerita dari pak tua. Dengan sopan pula aku ajukan diri
untuk membantu sibule itu. Dengan bahasa inggrisku yg sangat lancar
aku ceritakan dari awal sampai akhir semua tentang masjid tsb. Aku
ajak pula berkeliling ke tiap sudut masjid. Si bule tambah takjub
ketika aku katakan pernah study di negrinya. Retno terus
memandangiku setengah tidak percaya tentang diriku. Setelah puas
mendapatkan informasi, sebelum pulang Retno berjanji akan menemui ku
kembali segera, ada yg ingin dia tanyakan lebih banyak ttg diriku
katanya. Aku dengan senang hati akan menerima kedatangannya kapan
saja.

Beberapa hari kemudian Retno memang benar2 kembali datang menemuiku,
kali ini dia sama sekali tidak membicarakan perihal arsitektur
masjid. Tapi tentang diriku. Dia amat ingin tahu tentang diriku,
akhirnya aku ceritakan dari awal sampai saat ini perjalanan hidupku
ini. Dia amat bersimpati dan berkeinginan menolong ku. Walau aku
tidak mengaharapkan pertolong orang lain, tapi aku hargai niatnya
membantuku.Dia bilang dengan pendidikan ku dan kemahiranku berbahasa
asing, pasti aku akan dapatkan pekerjaan, apalagi aku sekarang sudah
mempunyai bukti fotocopy ijasah ku. Kira2 seminggu kemudian dia
kembali datang kepadaku, dan menyuruhku membuat surat lamaran,
bahkan dia sendiri yg membawa kertasnya dan amplopnya. Dia katakan
di rektorat univ memerlukan beberapa tenaga honorer. Aku terharu ada
orang lain yg peduli mau membatuku tanpa pamrih, aku ucapkan banyak
terimakasih padanya. Bagiku dia seperti diutus Tuhan untuk
menolongku. Tak lama kemudian aku mendapat kabar gambira, aku
dipanggil menghadap ke rektorat universitasnya untuk test dan
wawancara. Sebelum berangkat aku shalat memohon kapada Allah agar
diberikan kelancaran. Anakku aku titipkan pak tua, yg memang sudah
aku anggap sebagai orang tuaku sendiri.

Alhamdulilah semua test aku lalui dengan lancar, bahkan sewaktu
wawancara bahasa Inggris, justru akulah yg lebih menguasai ketimbang
yg mewawancaraiku. Dia sampai menyerah, dan mengatakan bhs inggrisku
udah perfect melebihi kemampuan dia.

Tak sampai seminggu kemudian, Retno mendatangiku lagi, kali ini dia
tampak gembira sekali, dia katakan dalam beberapa hari aku akan
mendapat surat dari rektorat, yg isinya penerimaan aku sebagai
karyawan. Dia bisa lebih dulu tahu karena ada temannya yg bekerja
disana. Langsung aku menuju masjid dan bersujud sukur lama sekali.
Aku merasa telah lulus segala test yg diujikan Allah tehadapku.
Memang kadangkala aku sering bertanya pada Allah, apakah karena aku
mualaf sehingga Allah kurang percaya dengan keimananku, sehingga
perlu mengujinya dengan ujian yg amat berat.

Walau sebagai karyawan honorer tapi aku sudah bersukur, yg penting
aku sudah memperoleh penghasilan yg layak. Kerjaanku membantu bagian
keuangan di rektorat, memang sesuai dengan ilmuku, tetapi mulai
banyak orang yg tahu kalau aku lulusan dari luar negri. Setiap ada
seminar dan memerlukan makalah dalam bahasa Inggris pasti aku yg
diberikan tugas tambahan untuk menyusunnya. Akupun banyak membantu
menterjemahkan litelatur2 asing untuk dipergunakan para
mahasiswa.Nyaris sejak 3 tahun terakhir, aku tidak pernah membeli
baju baru. Dengan gajiku sekarang aku sudah bisa membeli lagi. Aku
amat sangat senang bukan main, bisa membelikan pakaian yang bagus2
untuk anakku. Bahagia rasanya melihat anakku bisa aku berikan pakain
yg layak. Pakaian sekolahnya yg sudah menguning, sekarang sudah aku
belikan yg baru putih bersih, dan juga sepatu baru. Sepatunya yg
dulu robek, masih aku simpan sebagai kenangan.

Beberapa bulan kemudian aku sudah mampu mengontrak rumah sendiri,
sebelum aku meninggalkan masjid tsb tak lupa aku berpamitan kerumah
pak Imam, aku ucapkan banyak terimakasih atas pertolongannya, beliau
katakan yg menolong bukan dia tetapi Allah SWT yg menolongku. Aku
peluk dia lama sekali, dan aku katakan dahulu aku mengucapkan
sahadat didepan dia, dan aku tak akan pernah mengingkarinya seumur
hidupku, apapun yg terjadi. Sebelum pergi, aku sempat memandangi
kamarku untuk terakhir kali, sempat beberapa menit aku tertegun,
membayangkan, mungkin kelak ruangan ini akan dipakai oleh orang2 yg
senasip seperti aku…..Aku berharap Semoga Allah memberi
kekuatan….

Setelah aku melewati segala cobaan, Tuhan tampaknya terus menerus
memberikan semacam rewards kepadaku, belum genap setahun aku
bekerja, pihak rektorat meberikan kabar, kalau statusku akan di
tingkatkan menjadi karyawan tetap, bahkan beberapa dosen senior
sudah menawariku untuk membantu mengajar. Memang rekan2 kerjaku
mengatakan, kalau karirku bakal amat bagus, karena orang dengan
kemampuan sepertiku amat dibutuhkan. Mereka bilang, kesuksesanku
hanya menunggu waktu saja. Aku hanya bisa mengucap puji syukur
Alhamdulilah. Andai dulu aku sering berdoa dengan linangan air mata
kesedihan, sekarangpun aku masih sering menangis ketika berdoa, tapi
kali ini aku menangis bahagia.

Sampai saat ini aku masih sendirian, aku bertekad membesarkan anaku
sebaik2nya, bagiku aku masih merasa istri dari mas Fariz. Masih
sulit rasanya menggantikan dia dihatiku. Seperti yg aku pernah
katakan, dia bukan hanya suami, tetapi soulmate ku, dan tak
tergantikan. Tetapi entah kalau Allah mempunyai rencana lain untukku.
Tiap memandang anakku, aku seperti melihat mas Fariz. Seperti dia
masih mendampingiku.

Alhamdulilah dengan penghasilanku sekarang ini aku kini bahkan sudah
mampu membeli sepeda motor untuk keperluan transportasiku. Kadang
diakhir pekan aku berboncengan dengan anakku jalan2 rekreasi.
Kadangkala aku sengaja lewat depan rumah orang tuaku, sambil aku
katakan bahwa itulah rumah opa dan oma. Sering anakku bertanya, “Ma
kapan kita pergi main kerumah oma-opa? ” Aku tak bisa menjawab,
karena menahan air mata…

Walaupun begitu aku terus berdoa, semoga suatu saat kelak, kedua
orangtuaku dibukakan pintu hatinya, kalaupun tidak mau menerima aku
lagi, mohon terima anakku, cucunya, darah daging mereka sendiri.

Wassalam,

Mawar.

Di ceritakan kembali oleh Retno (2508) Di Kota P

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Oktober 2010 in Bukan Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,

Kisah “Orang Indonesia” di Belanda…

Amsterdam. Pengungsi Indonesia tiba di Belanda setelah diusir dari negara mereka karena memegang paspor Belanda. Dari kapal, mereka dibawa ke kamp-kamp untuk pemeriksaan medis dan kemudian dikirim ke rumah-rumah di seluruh negeri. Bagi sebagian di antara mereka, Belanda terlalu dingin sehingga banyak yang tewas….”

Demikian catatan di balik sebuah foto yang menggambarkan seorang perempuan berwajah Ambon, dengan pakaian kebaya putih, ketika baru tiba ke Pelabuhan Amsterdam. Dalam foto yang lain, seorang perempuan berkerudung asal ”Indonesia” tampak tersenyum bahagia.

Teks di belakang foto tertulis, ”Perempuan ini meninggalkan Indonesia setelah negaranya memperoleh kemerdekaannya dan tiba di sini, di Amsterdam, untuk bergabung dengan keluarganya, yang telah datang lebih dulu.”

Foto-foto itu diabadikan oleh fotografer Magnum, Leonard Freed, selama kurun 1958-1962 dan dipamerkan di Tropenmuseum, Amsterdam, pada pengujung September 2010.

Serial foto ini menggambarkan tentang orang-orang Indonesia—kebanyakan berasal dari Ambon—saat baru datang di Belanda hingga beberapa saat setelah mereka tinggal di negeri itu. Mereka kebanyakan eks tentara Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) dan keluarga. Foto-foto ini mengingatkan pada kisah komunitas Maluku di Van Het Rijk, Nistelrode, Provinsi Noord Brabant, yang saya temui akhir Oktober 2008. ”Waktu baru datang, kami sangat menderita,” kenang Helena Mparityenan (80).

Helena adalah generasi pertama Maluku yang datang ke Belanda tahun 1951. Dia merasakan penderitaan dalam perjalanan dengan kapal dari Surabaya menuju Belanda dan hidup bertahun-tahun di barak.

Kehidupan yang pahit di Belanda membuat sebagian orang yang terusir dari kampung asalnya memendam rasa marah terhadap sesuatu yang berbau Indonesia. Sebagian dari mereka kemudian mendirikan Pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS) di Belanda.

Gerakan yang awalnya mendapat dukungan dari masyarakat Belanda ini biasanya berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar RI (KBRI) setiap peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus dan peringatan pembentukan RMS pada 20 April.

Namun, beberapa aksi nekat simpatisan RMS membuat mereka kehilangan dukungan. Misalnya, penyanderaan 18 tenaga staf KBRI pada 1966, pendudukan Wisma Duta pada 13 Agustus 1970, dan penyanderaan di Konsulat Jenderal RI di Amsterdam tahun 1975. Puncaknya ketika mereka menyandera penumpang kereta api di Wijster dekat Beilen, Juli 1975, yang menewaskan dua orang di antaranya; pembajakan kereta api dari Assen dan Groningen, utara Belanda, pada 1977; dan penyanderaan 110 orang, sebagian besar anak sekolah, di Bovensmilde pada tahun 1978.

Masyarakat Belanda yang semula bersimpati lalu menjauh dan acuh dengan mereka. RMS kehilangan dukungan moral maupun keuangan. Tak hanya itu, generasi penerus RMS di Belanda juga semakin acuh dengan gerakan politik pendahulu mereka. Salah satunya adalah Daniel Irijanan (25) dari Nistelrode.

Kakeknya, Ezechiel Irijanan, berasal dari Maluku Tenggara dan neneknya dari Sunda. Daniel adalah generasi ketiga keturunan eks tentara KNIL yang menetap di Belanda sejak tahun 1950-an.

Daniel enggan berbicara politik, terutama yang berkaitan dengan RMS. Tema pembicaraan yang paling disukainya adalah tentang Ajax. Maklum, Daniel mengaku pendukung fanatik klub sepak bola raksasa dari Belanda itu. Daniel mengaku sudah beberapa kali pulang ke kampung leluhurnya di Ambon. Untuk berwisata dan mengunjungi kerabat.

Pascal Amukwaman, mantan Ketua Organisasi Nasional Sosial Maluku di Belanda, mengatakan, gerakan RMS tidak lagi populer di mata generasi ketiga. Walaupun masih ada simpatisan RMS, jumlahnya terus berkurang. Tidak signifikan dan gerakan ini nyaris tak terdengar lagi di Belanda dalam beberapa tahun terakhir.

Oleh karena itu, banyak orang Indonesia, termasuk kalangan Maluku, di Belanda yang terkejut dengan pembatalan rencana kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Belanda gara-gara RMS mendaftarkan tuntutan dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia ke pengadilan Belanda. RMS yang semula nyaris mati angin tiba-tiba mendapat angin.

Pembatalan kunjungan ini memang mengagetkan karena terjadi di tengah membaiknya hubungan diplomatik kedua negara. Seiring dengan semakin sedikitnya orang Maluku yang berdemonstrasi ke KBRI Den Haag, pada 2007, Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende datang dalam peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot menghadiri peringatan 17 Agustus di Istana Merdeka, Jakarta, pada tahun 2005.

Kehadiran pejabat-pejabat tinggi Belanda ini merupakan yang pertama setelah selama lebih dari 60 tahun mereka mengingkarinya dan menganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Desember 1949, yaitu ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.

Semangat zaman baru sangat terasa di perkampungan orang-orang Maluku di Van Het Rijk. Masih segar di ingatan sore itu udara teramat dingin dan angin dingin menjatuhkan dedaunan, mencipta karpet kuning menghampar di tanah pusara di ujung permukiman Van’t Rijk. ”Di sini dikuburkan para orang tua kami. Masa lalu kami,” kata Pascal.

Dia mengingatkan, sejarah itu tak bisa diputar ulang atau diingkari. Sebagaimana digambarkan dalam foto-foto kenangan Leonard Freed tentang ”orang-orang Indonesia di Belanda”, RMS adalah ”masa lalu”, dan mestinya tak lagi mengganjal hubungan dua negara….

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Oktober 2010 in Bukan Tulisanku

 

Tag: , , , , , , , ,